Menjawab pertanyaan interview : Mengapa anda resign?

Hari ini saya bertemu dengan seorang teman, yang  baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah bekerja selama 7 (tujuh) tahun di sebuah perusahaan. Terus terang, pada awalnya saya adalah orang yang selalu mempertanyakan, kenapa dia masih bekerja di tempat yang sama selama itu. Selama bertahun-tahun saya memang sering mendengarkan curhatannya mengenai suasana pekerjaan di tempatnya bekerja. Dari ceritanya tersebut, salah satunya adalah begitu banyak tanggung jawab yang dibebankan kepadanya namun kurang disertai dengan penghargaan yang sesuai. Selain itu, tidak adanya perkembangan dalam hal karir. Yang lebih parah, banyak pula hal-hal yang bertentangan dengan nurani, yang harus dilakukannya sesuai dengan arahan atasan ataupun kebijakan perusahaan.

Menurut beberapa sumber, ada beberapa penyebab orang memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saat ini :

  • Tidak suka pada pekerjaan. Kadang seseorang mengambil sesuatu pekerjaan, bukan karena mereka menyukai pekerjaan itu tetapi lebih karena mereka membutuhkan pekerjaan tersebut. Yang penting keluarga dapat terpenuhi kebutuhannya. Wajar saja, bila melakukannya pun kadang tidak sepenuh hati.  Dalam hal ini, sangatlah perlu mempertanyakan kepada diri sendiri, apakah memang kita sanggup mengerjakan hal yang tidak kita minati. Bila kita belum mengenali minat kita, coba
  • Tidak mendapat feedback. Feedback bagi karyawan sangat penting, sama pentingnya sebagaimana feedback untuk perusahaan maupun untuk produk. Dengan tidak adanya feedback, seseorang minim petunjuk bagaimana posisi dia saat ini. Apakah dia cukup kompeten untuk tugas selama ini atau apakah dia sudah berhasil mengerjakan semuanya dengan baik? Dalam hal ini, peran penilaian kinerja untuk memberikan penilaian yang objektif dan feedback kepada karyawan dalam sebuah perusahaan menjadi suatu kebutuhan bagi perusahaan di masa kini.
  • Karir tidak berkembang. Tidak adanya project atau kesempatan bagi karyawan akan membuat karyawan mengalami rutinitas yang cenderung monoton. Hal ini juga membuat ia tidak mampu menunjukkan lebih dari apa yang selama ini ia sudah tampilkan.
  • Bayaran yang tidak sesuai atau terlalu rendah. Kadang hal ini juga disebabkan calon karyawan tidak menunjukkan nilai tawar ketika direkrut. Entah karena saat itu memang sangat membutuhkan pekerjaan dikarenakan habis mengalami PHK atau adanya toleransi pihak perusahaan yang terlalu rendah terhadap kompetensi yang kurang memadai dari calon karyawan dikarenakan sulitnya mencari kandidat yang ‘perfect’.
  • Tidak cocok dengan atasan. Tidak cocok disini bisa berarti tidak cocok secara cara kerja atau tidak cocok dari segi kepribadian. Ada orang yang sangat membutuhkan deskripsi tugas yang jelas sementara atasannya adalah orang yang tidak senang mengurusi detail termasuk menyampaikan instruksi yang detail kepada anak buahnya. Atau atasan anda seseorang yang pemarah sedangkan anda adalah orang yang tidak suka dengan orang pemarah.
  • Tidak merasa dihargai. Seseorang umumnya akan mendapatkan harga diri yang lebih baik, yang mengarah kepada konsep diri yang sehat, apabila kepadanya diberikan notifikasi atau penghargaan kepada usaha yang dilakukannya. Bila seorang pekerja sudah merasa bekerja dengan keras namun tidak disertai penghargaan dari perusahaan dapat menyebabkan seseorang memiliki konsep diri yang tidak sehat, yang tidak merasa dirinya berharga dan menimbulkan emosi negatif terhadap pekerjaan maupun perusahaan.
  • Mendapat kesempatan yang lebih baik. Kadang anda bahagia dengan pekerjaan anda saat ini dan dengan lingkungannya. Tidak ada yang salah dengan pekerjaan anda. Push factor (faktor pendorong) nampak berperan minim dalam hal ini. Kadangkala sering ditemui, pull-factor (faktor penarik) bisa menjadi penyebab utama seseorang meninggalkan pekerjaannya. Misalnya gaji yang 2x lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, benefit yang lebih baik, lokasi kantor yang lebih dekat dari rumah, dan sebagainya.

Dalam sebuah interview melamar pekerjaan, biasanya akan ditanyakan : “Mengapa anda (akan) resign dari pekerjaan anda sebelumnya?”  Namun kadangkala kita tidak bisa menjawab jujur untuk sebab-sebab diatas dan memang tidak dianjurkan untuk menjawab beberapa dari hal-hal di atas. Beberapa tahun terakhir, sudah terjadi pergeseran dalam penerimaan terhadap alasan kenapa seseorang resign dari pekerjaannya.  Berikut adalah jawaban yang dapat diterima kenapa seseorang meninggalkan pekerjaan (sumber : http://www.job-interview-site.com/reasons-for-leaving-a-job-why-did-you-leave-your-last-job-interview-question.html) :

Pengembangan Karir

Anda dapat mengatakan dengan mudah bahwa anda mencari perubahan dalam peran anda dan menginginkan perkembangan, atau posisi anda saat ini sudah mentok. Hal ini mungkin memberikan alasan yang tepat untuk meninggalkan pekerjaan anda.

Untuk career path anda

Satu alasan ketidakpuasan dasar adalah karir. Ingatlah bahwa hal ini bukan mengenai perusahaan anda atau departemen, tapi kepada karir anda secara keseluruhan. Hal ini akan didukung oleh resume anda bilamana anda memang memiliki profil karir yang kaya dan sedang melamar untuk pekerjaan yang berbeda.

Mencari tantangan

Satu alasan yang paling umum dan sederhana adalah bahwa pekerjaan anda tidak berkembang dan anda berharap dapat menemukan suasana baru dan tantangan yang lebih besar.

Restrukturisasi

Alasan yang umum saat ini adalah restrukturisasi. Ketika sebuah perusahaan mengalami restrukturisasi, dapat terjadi PHK dan dapat terjadi di masa yang akan datang. Jadi, walaupun belum terjadi pada anda, tidak akan ada yang menyalahkan anda untuk mencari pekerjaan baru karena sudah ada beberapa rekan anda atau karyawan dari departemen lain yang mengalami PHK.

Relokasi

Lebih seringnya alasan ini diterima begitu saja oleh sebuah perusahaan.

Peningkatan Pendidikan

Alasan lain yang dapat diberikan adalah peningkatan kemampuan dan pendidikan. Jika anda baru saja mendapat sebuah gelar dan telah memutuskan untuk menggunakan pendidikan anda untuk meningkatkan profile profesional anda, maka hal ini dapat menjadi suatu alasan yang kuat.

Jarak tempat kerja
Kadangkala alasan terlalu banyak waktu yang harus anda tempuh untuk menuju tempat kerja sehingga sedikit waktu yang anda miliki bersama keluarga dapat menjadi alasan yang baik untuk meninggalkan sebuah pekerjaan.

Ingat bahwa anda tidak dapat berbohong mengenai alasan anda berhenti dari pekerjaan anda. Dalam era saat ini dan dikenalnya prosedur cek referensi, menemukan alasan sebenarnya kenapa anda resign adalah semudah menghubungi nomer telepon dari sebuah ponsel.

Iklan

Learning Organization : Apakah Itu?

Tulisan ini pernah saya kirimkan ke milis hrd_group Parafinance pada tanggal 16 Januari 2009.

Saya tergerak untuk menuliskan disini plus menyadur beberapa bahan bacaan sederhana, setelah sebuah proses untuk memahami apa itu yang dimaksud dengan learning organization. Merangkum dan menuliskannya menjadi sesuatu yang memiliki alur dan bisa dipahami oleh saya sendiri dan (semoga) juga oleh orang lain, menjadi tantangan tersendiri buat saya. Maksud berbagi tulisan disini pun didasari oleh keinginan untuk belajar dan berbagi serta mendapat masukan dari rekan-rekan, sehingga saya dan teman-teman bisa belajar dan mengembangkan, mengenai apa yang dikenal dengan learning organization. Saya pun sangat bersyukur kalau sesudah ini, ada teman-teman yang mau sharing juga.

Jadi apa yang disebut dengan learning organization? Peter Senge (1947), yang diberikan julukan ‘Strategist of the Century’ oleh Journal of Business Century, 1 dari 24 orang yang dianggap memiliki pengaruh terbesar dalam bagaimana cara menjalankan bisnis saat ini. Beliau ini sangat terkenal dengan bukunya, The Fifth Discipline: The Art and Practice of The Learning Organization (1990), yang membahas pemikirannya secara lebh meluas mengenai learning organization. Senge mengatakan : a “Learning organization” atau organisasi pembelajar adalah organisasi dimana orang secara berkesinambungan meningkatkan kapasitasnya untuk menciptakan hasil yang diharapkan, dimana pola berpikir yang baru dan meluas dipelihara, dimana aspirasi bersama ditetapkan bebas, dan dimana masyarakatnya secara kontinyu belajar untuk belajar bersama.

Kalau mengutip pendapat Yodhia Antariksa (1997) dalam strategi.net, ketika a “learning organization” telah menjelmakan dirinya dalam wujud yang sempurna, maka ia ibarat sebuah taman impian. Itulah taman dimana semua penghuninya tergerak untuk terus menerus belajar, dan dengan penuh semangat saling berbagi pengetahuan serta pengalaman. Sebuah taman dimana semua anggotanya dinaungi spirit keriangan untuk selalu mempersembahkan karya terbaik.

Idealnya sih begitu. Harus diakui, bahwa baik dalam kehidupan organisasi maupun pribadi, manusia harus selalu belajar dan mengembangkan diri. Sebagai pribadi, bayangkan kita 2-3 tahun ke depan dengan kondisi yang sama – pengetahuan yang sama, skill yang tidak bertambah, cara kerja yang sama sementara tantangan di luar sudah semakin bervariasi. Apakah cara yang kita pakai masih relevan dengan keadaan sekarang ini. Saya rasa sih bisa jadi masih, namun bisa jadi kurang mampu mengimbangi tuntutan dari perusahaan ataupun lingkungan sekitar kita, khususnya customer-customerkita.

Begitu juga dengan perusahaan. Dalam konteks riil, tema tentang learning organization ini diyakini telah menjadi satu jurus jitu untuk berkelit dari kekalahan persaingan bisnis. Kita misalnya, melihat dari kasus Microsoft dalam merespon penemuan teknologi internet pada pertengahan tahun 90-an lalu. Harus diakui, saat itu Microsoft nyaris terpelanting lantaran terlambat menyadari pentingnya teknologi internet. Di awal-awal lahirnya internet, hampir semua orang melakukan browsing internet dengan piranti lunak bermerk Netscape yang bukan buatan Microsoft dan ini membuat perusahaan teknologi raksasa ini seperti tersisih dipinggir jalan. Beruntung, para petinggi Microsoft segera menyadari kekeliruan prediksi mereka dan detik itu juga mereka melakukan konsolidasi internal untuk secepatnya membuat piranti lunak buat menyaingi produk Netscape. Kini, beberapa tahun kemudian, kita mungkin lebih mengenal dan lebih sering berselancar ke internet dengan menggunakan produk buatan Microsoft yang bermerk Microsoft Explorer.

Menurut Yodhia, pertanyaannya kemudian adalah apa yang mesti dilakukan untuk membangun learning organization yang tangguh? Dalam hal ini, langkah pertama yang mungkin mesti dilakukan adalah dengan membangun iklim dialog dan knowledge sharing yang kuat. Elemen ini penting sebab proses pembelajaran tidak akan pernah bisa berlangsung jika tidak ada komitmen yang kokoh diantara para karyawan – apapun levelnya – untuk bertukar gagasan dan pengetahuan, baik secara formal maupun melalui proses informal learning. Proses informal learning ini layak disebut, sebab berdasar riset, kegiatan ini memiliki peran yang amat signifikan dalam mengembangkan kemampuan belajar organisasi  dan bahkan acap lebih efektif dibanding proses formal learning melalui kegiatan semacam in-class training.

Jadi belajar, tidak melulu harus lewat training kan. Nah contohnya bagaimana, informal learning tersebut? Bisa dengan membagi informasi-informasi yang berguna saat makan siang dengan teman-teman yang bisa mendorong kita untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam bekerja, atau menetapkan waktu khusus dimana kita bisa bertukar gagasan atau pengetahuan dalam membahas permasalahan-permasalahan yang sering ditemui di lingkup pekerjaan. Setiap orang dapat mengeluarkan pendapatnya, bahkan yang ‘tergila’ sekalipun, yang sebelumnya tidak terpikirkan sekalipun ataupun yang sebelumnya kita pikirkan tidak bisa. Think out of the box istilahnya. Kadangkala, gagasan kita cenderung tidak berkembang sesuai dengan kapasitas yang kita miliki, karena kita dibatasi oleh pemikiran-pemikiran kita sendiri bahwa hal tersebut mustahil atau tidak tepat, yang merupakan hasil pembentukan nilai oleh lingkungan. Kita selalu berpikir bagaimana reaksi orang terhadap apa yang kita lakukan sehingga kita takut dan terlalu membatasi diri kita. Intinya, kita harus dan mau berbagi! Di sinilah peran atasan dan organisasi (khususnya HR) untuk memfasilitasi atmosfir harus dan mau belajar ini.

Namun perlu disadari, untuk menjadi partisipan aktif dalam organisasi pembelajar, kita pun harus memulai dari diri kita. Membaca koran setiap hari, membaca portal perusahaan sehingga terus update dengan info-info perusahaan, ataupun membaca buku-buku pengetahuan yang berkaitan dengan bidang pekerjaan kita, dapat memperkaya kita dalam proses pemecahan masalah dan mengisi ‘gelas kita’ yang kita jaga selalu berada dalam keadaan setengah penuh setengah isi.

Pada akhirnya, penumbuhan iklim learning itu juga mesti dibarengi dengan penciptaan mekanisme atau infrastruktur yang bisa mendorong agar kegiatan proses learning diantara para karyawan bisa berlangsung lebih terpadu. Disini, peran knowledge management menjadi amat kritikal; sebab melalui mekanisme inilah proses pembelajaran dan akumulasi pengetahuan yang tersebar diantara segenap karyawan bisa dikelola secara efektif dan didesain agar selaras dengan arah strategi perusahaan.

Tentu saja, proses penumbuhan learning organization yang solid tak bisa hanya berlangsung semalam. Mulailah dari diri kita dan lingkungan terdekat kita, misalnya dari unit kerja atau departemen kita. Kalau kita tidak mulai dari sekarang, kita akan terus berada di titik yang sama. Memang, kalau kita menanam sebuah pohon dari lima tahun yang lalu, sekarang mungkin pohon itu sudah berbuah dengan subur. Namun kalau kita tidak menanam apapun dari sekarang, lima tahun lagi kita tidak akan punya apapun di taman kita….

source :
– Wikipedia, the free encyclopedia

– Taman Impian itu bernama Learning Organization, Yodhia Antariksa 2007

http://strategimanajemen.net/2007 – Peter Senge and the Learning Organization, http://www.infed.org/thinkers/senge.htm

Kesuksesan Seorang Pengemudi Taksi

Ini merupakan kisah nyata, pengalamanku di malam hari tanggal 27 Mei 2010, pukul 21.00.

Hari ini hari yang melelahkan. Pekerjaan di kantor cukup ‘menyiksa’ – dalam artian, besok libur sehingga apa yang menjadi target di minggu ini harus diselesaikan hari ini, hari Kamis yang merupakan hari terakhir di minggu ini. Aku akhirnya pulang setelah memutuskan untuk membawa beberapa pekerjaan pulang. Suntuk dan pusing kepala, mengerjakan semuanya seorang diri. Pekerjaanku saat ini memang seorang generalist, yang juga harus mensupervisi tim yang semuanya masih lebih junior dari padaku. Beberapa kali aku rasakan, tingkat emosi cukup tinggi, walau tidak sampai memaki. Tekanan pekerjaan nampaknya memang berpengaruh pada keletihan fisik. Aku merasakan keletihan yang luar biasa.

Tepat jam sembilan malam, aku melangkahkan kaki keluar kantor. Cukup lama rasanya menunggu taksi di depan jalan Wijaya I. Apalagi kondisi long weekend, membuat semua taksi  yang lewat sudah berpenumpang dan tidak menyisakan satu pun taksi kosong untukku. Aku capek, keluhku dalam hati. Memandang ke arah mobil-mobil yang lewat, dimana penumpangnya duduk santai sementara sang pengemudi tampak gusar menahan pegalnya kaki harus mengantri di jalan yang harusnya biasanya sudah lengang di jam 9 malam tersebut.

Akhirnya, aku menemukan sebuah taksi kosong, menyetopnya, membuka pintunya, dan di sana duduk di kursi pengemudi seorang bapak berperawakan kecil. Ia menyapaku “Selamat malam, Bu,” katanya bersemangat. Wah, kataku dalam hati. Kenapa harus bertemu dengan sopir taksi yang masih semangat ya jam segini. Padahal aku sudah capek, ingin istirahat rasanya. Dia melanjutkan “Wah saya senang sekali, Bu, barusan saja saya di Kemang tidak bergerak sama sekali. Dua jam, Bu,” katanya dengan logat daerah Tegal yang dengan mudah aku kenali.

Sepanjang jalan, pengemudi taksi berbaju biru itu terus mengajak aku berbicara. Pada saat ada motor mau menyerempet mobilnya, ia tetap berbicara dengan sabar. Katanya, “Saya ini bawa motor juga lho, Bu, tapi saya gak pernah ugal-ugalan begitu. Saya ingat anak istri saya. Apalagi kalau saya bonceng mereka, Bu, kecepatan 40 aja istri saya udah nyubit saya. Pelan-pelan, Pa..”

Disitu saya melihat bahwa Bapak ini adalah seorang yang sabar dan juga seorang yang sayang pada keluarga. Apakah pengemudi-pengemudi kendaraan yang lain juga pernah berpikir yang sama? Kenapa aku lama-lama jadi tertarik untuk menyimak ceritanya ya. Orangnya ramah dan tutur katanya pun sopan.

Dia melanjutkan “Saya setiap libur selalu ke daerah, Bu, ngedrop barang. Pakai motor juga, baru saya berani sedikit kencang biar waktunya cukup, Bu” paparnya dengan semangat.

“Lho, Bapak memang ditugaskan sama perusahaan Bapak ke daerah?” tanyaku heran.

“Enggak, Bu. Saya punya usaha juga selain bawa taksi. Saya ini jualan celana, Bu.”

“Oh, Bapak punya toko celana ya?” tanyaku.

“Enggak, Bu. Saya tiap libur itu dari kantor, saya nge-drop in celana. Bisa sepuluh lusin. Bisa dua belas lusin. Terakhir kemarin saya nge-drop in ke Tasik, Bu. Lumayan, Bu.”

“Wah hebat benar Bapak. Gimana ceritanya Pak, bisa punya bisnis ini? Terus kenapa Bapak sekarang masih bawa taksi?” tanyaku heran. Heran karena jumlah dagangan Bapak ini tidak sekedar satu dua, tapi berlusin-lusin tiap minggunya.

“Itulah, Bu. Saya gak mau berhenti jadi sopir karena saya dulu dapat rezeki ini di taksi. Saya pernah nganter orang ke bandara, dan dia menawarkan saya untuk menjalankan bisnis ini di Jakarta. Dia orang Bandung, Bu. Dia bilang dia percaya sama saya. Pelanggan-pelanggan saya yang pertama ya teman-teman di pool (taksi), Bu. Sehari saya bisa laku minimal sepuluh potong, padahal saya cuma ambil untung 5000 rupiah.”  Kemudian ia terhenti sebentar. Aku menangkap nada haru di suaranya.

“Ya, Allah, sungguh rezeki ini luar biasa buat saya, Bu. Saya dulu orang susah, dari SD saya sudah gelandangan di Jakarta sampai dipungut anak oleh seorang ibu di daerah Blok M. Saya terima kasih sekali sama beliau almarhum, Bu. Saya dulu diusir orangtua saya dari kampung, saya sampai ke Jakarta dengan suatu tekad, suatu hari saya harus jadi sukses. Awalnya saya ngamen sampai kerja di pabrik. Baru jadi supir di sini, sudah lima belas tahun bawa taksi”,  katanya. “Sekarang sejak jual celana, hidup saya jauh lebih baik, Bu. Saya bisa punya rumah. Rumah saya tiap hari ramai didatangi tukang kredit yang mau beli dari saya untuk dijual lagi.

“Tapi saya gak dendam, Bu, sama keluarga saya. Mbakyu saya datang ke rumah saya belum makan, saya suruh makan sepuasnya. Waktu dia mau dagangin celana saya, saya juga kasih. Walaupun akhirnya uangnya tidak pernah sampai ke saya. Untungnya istri saya juga baik, Bu, ngerti banget keluarga suaminya gimana,”

“Kalau sampai sekarang saya masih bawa taksi, ini karena dari taksi inilah saya dapat rezeki saya, Bu. Saya ditemukan oleh Pak Herry – sebut saja begitu, orang yang memberikan dia bisnis itu. Dan saya juga menemukan banyak pelanggan di taksi ini,” katanya lagi. Matanya tampak berbinar-binar. “Saya mau punya toko sendiri, Bu. Mungkin setelah punya toko baru saya benar-benar berhenti bawa taksi.”

Wow, luar biasa. Setelah bicara panjang lebar dengan Bapak itu kurang lebih dua jam, saya mulai menyimpulkan hal-hal yang berkontribusi terhadap kesuksesannya.

1. Sabar dan mengikuti aturan – Mendengarkan masukan istri dan menjaga keselamatan keluarga dalam berkendara

2. Kerja keras dan menampilkan komitmen – Pekerjaan apa saja yang halal dijalani. Dan ia sudah bekerja 15 tahun di perusahaan yang sama tanpa cacat cela

3. Mendapatkan kepercayaan orang lain – Dengan cara menampilkan tutur kata dan perilaku yang positif dan dapat dipercaya

4. Memaafkan yang sudah pernah menyakiti hatinya bahkan menolong mereka

5. Memberikan apa yang menjadi porsi orang lain – Yang mengambil celana untuk dijual lagi dan belum bayar karena uangnya dipakai untuk beli keperluan sehari-hari, dia maklumi

6. Punya target ke depan dan berusaha mencapainya – Dia mau punya toko dan sampai sekarang berusaha mengumpulkan uang yang ada untuk modal menyewa toko

7. Kemampuan mengadakan pendekatan dan tidak malu untuk menawarkan, juga membangun relasi – Pada saat saya sampai di rumah, ia masih sempat memperlihatkan kepada saya beberapa sampel celana yang dijualnya, dan juga memberikan nomer hp-nya loh 🙂 Serta berpesan bahwa dia menerima order per potong, tidak mesti beli selusin.

Salut untuk seorang Pak Warto, pengemudi taksi yang sudah menolong saya malam  itu, bukan saja mengantar saya pulang, tapi juga memberi saya makna baru dalam menyikapi setiap tantangan hidup. Mengajarkan saya kiat-kiat sukses yang selama ini cuma saya baca di toko buku dan tidak lebih dari buaian kata-kata indah belaka. Semoga Pak Warto sukses dalam bisnisnya dan bisa memiliki toko seperti yang dicita-citakannya.

Officer Development Program : Apakah Ini yang Kumau?

Baru saja saya menemui kandidat keseratus dari sekian banyak pelamar yang saya wawancarai untuk posisi Officer Development Program di perusahaan saya. Mereka masih muda, lulusan-lulusan terbaik dari kampusnya, dan mereka tampak sangat bersemangat. Untuk menemui satu kandidat dan menjawab pertanyaan mereka mengenai program ini, bisa menghabiskan waktu saya sampai dengan 1 jam untuk satu peserta. Saya senang dengan antusiasme mereka dan kejujuran mereka dalam menjawab sehingga saya pun tidak pusing harus menerka-nerka sesuaikah mereka untuk program ini. Salah satu contoh kejujuran mereka tampil dalam pernyataan seperti “Saya masih belum memahami perusahaan ini bergerak di bidang apa..”, “Saya sudah coba melamar di beberapa perusahaan namun belum diterima..” dan jawaban lainnya yang membuat saya tersenyum sendiri.

Mereka pun sangat aktif dalam bertanya. Pertanyaan mereka sangat detail dan menjelimet, bukti keberhasilan pendidikan di masa sekarang, mereka diminta untuk proaktif dalam mengejar informasi. Namun di sisi lain, tampak unsur demanding mereka bagi penyedia informasi untuk memberikan informasi yang sejelas-jelasnya dan selengkap mungkin. Bahkan salah satu peserta dari luar kota menanyakan ke saya : “Mbak, kost-an nya ada TV nya gak ya?”

Satu peserta ketika ditanya mau jadi apa nanti?, dengan bulat dan tegas menjawab ingin jadi manager. Berapa lama lagi kamu mau jadi manager?- pertanyaan saya berikutnya, maka jawabannya pun “2 tahun”. Semua nampak begitu percaya diri, komunikatif dan matang. Hasil dari beberapa pelatihan formil yang sekarang mulai menjamur, yaitu mengenai persiapan memasuki dunia kerja, persiapan tes & interview, dan sebagainya. Dan yang lebih membuat saya awalnya cukup terkaget-kaget (sekarang sudah biasa) adalah ekspektasi gaji mereka yang bisa dikatakan sama dengan level managerial saat ini. Bahkan ada yang meminta gaji dua digit hanya karena dia lulusan dari universitas luar negeri.

Ketika ditanyakan mengenai motivasi untuk menjadi trainee Officer Development Program (ODP), jawaban yang umum ditemui adalah :

Ingin menjadi bagian dari sebuah perusahaan yang mapan / berkembang dengan baik, terkenal, dsb. Namun ketika digali lebih dalam lagi, ditanyakan pertanyaan sejenis “Selain di perusahaan ini, Anda melamar di mana lagi?”, maka akan timbul jawaban seperti “Di bank XYZ, tivi ABC, (saya buat anonim)” dan lain sebagainya. Nama-nama yang biasanya lebih terkenal atau perusahaan-perusahaan yang sudah established dibanding dengan perusahaan yang sedang dilamar si kandidat ODP. Di satu sisi, ini memberikan bukti bagi pewawancara bahwa si kandidat ODP cukup percaya diri dengan kemampuannya dan ia berani mencoba di perusahaan dengan reputasi baik dan memiliki standar yang baik pula dalam seleksi calon karyawannya. Namun di sisi lain, perusahaan yang saat ini sedang dilamar tersebut nampaknya bukan prioritas nomer satu dan hanya sekedar menjadi cadangan.

Ingin berkembang, ingin mendapatkan ilmu, dsb. Dengan mengikuti ODP, mereka berharap bisa mendapatkan ilmu yang menyeluruh dan menguasai proses bisnis di perusahaan. Mereka pun dapat mendeskripsikan dengan baik motivasi tersebut dan rata-rata sudah memiliki perencanaan karir pribadi terkait dengan motivasi tersebut. Namun ketika digali lebih dari pertanyaan di atas, ternyata sebagian besar dari mereka tidak melamar untuk posisi ODP. Bahkan ada yang melamar sebagai teller / frontliner / admin. Sekali lagi merupakan suatu bukti bahwa ODP bukanlah tujuan utama mereka. Selain itu, program trainee ini umumnya memiliki rentang waktu yang cukup panjang untuk belajar, baik di satu bidang (spesialis) maupun di seluruh bidang (generalis). Kalau belajar bukanlah passion utama, minat belajar kurang (dapat diamati dari kebiasaan waktu kuliah, apakah seorang SKSwan/SKSwati, niscaya tidak akan betah dalam menjalani kegiatan belajar ini.

Ingin menjadi manager, ingin memiliki jenjang karir yang baik, dsb. Officer Development Program, Management Trainee, Management Development Program, dan sebagainya, memang menawarkan suatu kelebihan, yaitu tersedianya jenjang karir bagi lulusan-lulusannya, yang lebih cepat daripada jalur karir umumnya. Hal ini sepenuhnya tidak salah. Banyak saya temui mereka yang duduk di senior level di management adalah lulusan dari program ‘fast track’ tersebut. Namun pengalaman saya selama mengelola program sejenis ini membuktikan bahwa performance setelah luluslah yang pada akhirnya akan menentukan ‘kecepatan’ dalam menapaki jenjang karir. Akselerasi umumnya ditemui setelah lulus. Banyak program Trainee mengangkat lulusannya menjadi Supervisor, Assistant Manager, bahkan Manager begitu lulus. Namun peserta program terkadang tidak menyadari bahwa bekerja sesuai standar dan mencapai nilai Performance Appraisal 3 dari skala 5, hanya akan membuat karir mereka bergerak seperti karyawan yang masuk dari level staff. Jadi, karir cepat lebih ditentukan oleh kinerja kita saat ini, bukan history kita sebagai ODP. ODP merupakan batu loncatan, tools yang disediakan oleh perusahaan. Bagaimana seseorang konsisten untuk menjadi luar biasa dalam mengerjakan tugasnya (sebagaimana lulusan ODP umumnya adalah 5% lulusan terbaik dari universitasnya) lah yang pada akhirnya akan menentukan jenjang karirnya.

Ingin menjadi pribadi yang mandiri. Umumnya persyaratan dari suatu ODP adalah bersedia di tempatkan di seluruh Indonesia. Jawaban ini timbul dari mereka-mereka yang ingin mencari identitas. Mereka yang selama ini masih sepenuhnya diarahkan oleh orangtua atau keluarga dalam pengambilan keputusan. Sebagai seorang developmentalist, saya sangat menghargai alasan ini. Namun bila masih tampak indikasi-indikasi seperti pertanyaan yang terlalu detail mengenai penempatan, meminta kepastian bahwa penempatan hanya akan di Pulau Jawa, meminta waktu untuk mendiskusikan keputusan bergabung atau tidak dengan keluarga, hanya akan memberi petunjuk lebih kepada saya bahwa sampai saat ini langkah-langkah kecil untuk menjadi pribadi mandiri pun belum dilakukan oleh sang calon Trainee ODP, apalagi langkah besar yang akan diambilnya.

So, berdasar pengalaman saya, berikut beberapa tips yang saya ingin bagikan kepada adik-adik yang hendak melamar posisi Management Trainee, Officer Development Program, dan sebagainya :

  • Coba cari informasi mengenai perusahaan tersebut. Sebisa mungkin kamu tahu nilai dan ekspektasi mereka mengenai profil ODP yang mereka harapkan. Sebagian besar perusahaan biasanya menyediakan presentasi untuk menjelaskan program tersebut.
  • Tanyakan kepada diri sendiri : Apakah saya memang suka belajar? Apakah saya memang ingin mengikuti ODP? Apakah memang hasrat (passion) saya memang adalah untuk menjadi seorang trainee? Apakah saya siap untuk mengikuti ujian bahkan sidang kompre lagi? Kalau kamu menjawab “ya” untuk pertanyaan di atas, maka kamu siap untuk menjadi Trainee.
  • Cek kembali sejarah kamu dalam melamar pekerjaan. Kalau memang kamu melamar untuk semua posisi, berarti tujuan utama kamu bukan menjadi seorang Management Trainee. Kemukakan hal lain yang menurut kamu bisa dinilai positif dalam hal ini. Misal dari segi perusahaan, atau kamu memang mentargetkan diri kamu sendiri untuk memiliki sebuah pekerjaan, baik itu ODP ataupun bukan.
  • Menanyakan kesiapan dirimu sendiri untuk menjadi seorang STAR dalam setiap langkahmu. Seorang bintang dituntut untuk menampilkan performance layaknya seorang bintang. Kamu tidak bisa tampil di muka umum tanpa riasan ataupun baju yang pantas sebagaimana profesimu. Demikian juga dengan label lulusan ODP, kamu adalah lulusan terbaik, dididik dengan khusus, maka prestasimu dalam bekerja janganlah biasa-biasa saja. Berarti usaha yang kamu lakukan harus dua kali lipat dari mereka yang masuk lewat jalur normal.
  • Tunjukkan percaya dirimu dan kemandirianmu, baik dalam bersikap, bertutur kata maupun dalam pengambilan keputusan. Jangan kemukakan alasan bahwa kamu mungkin tidak akan diizinkan orangtua untuk ditempatkan di seluruh Indonesia, atau hal-hal lain yang menceritakan bahwa kamu masih sangat dalam kontrol orangtuamu.

Peranan Dukungan Orangtua dalam Kesuksesan Belajar Anak

Manusia adalah makluk sosial yang selalu membutuhkan interaksi dengan individu lain dalam kehidupannya. Bermacam-macam interaksi dapat terjadi, mulai dari interaksi perseorangan sampai yang melibatkan banyak individu atau kelompok. Bentuk interaksi individu yang pertama dengan individu lainnya adalah keluarga. Keluarga disini memegang peranan penting karena berfungsi sebagai lingkungan pertama dan berjangka panjang bagi perkembangan seorang anak.

Ditinjau dari sudut pandang ilmu sosiologi, keluarga adalah kelompok terkecil masyarakat manusia. Keluarga sebagai bagian dari masyarakat memiliki tugas-tugas yang dibebankan oleh masyarakat, seperti : melahirkan warga baru, memelihara kebutuhan fisik anggota keluarga, mempersiapkan anak untuk berperan sebagai warga masyarakat, dan melakukan kontrol sosial. Dewasa ini, tugas-tugas itu tidak lagi seluruhnya dilaksanakan secara swadaya oleh keluarga. Misalnya saja dalam hal pendidikan, tugas ini sudah mulai diserahkan kepada lembaga formal dalam masyarakat. Lembaga formal ini misalnya sekolah, tempat kursus, tempat penitipan anak, sekolah minggu, dan lain sebagainya. Namun tetap saja keluargalah lingkungan terdekat dari seorang anak dan memberikan makna tersendiri dalam perkembangan dan pendikan anak.

Karakteristik keluarga banyak menentukan cara yang dianggap terbaik dalam mendidik anak. Keluarga juga menjadi suatu konteks perkembangan dimana anggota keluarga mengajarkan dan belajar satu sama lain. Proses belajar sendiri dapat terjadi secara sadar maupun tidak disadari. Contoh proses belajar yang dilakukan secara sadar dan memang ditujukan untuk memberikan suatu pemahaman atau pengetahuan baru misalnya : Orangtua mengajarkan anaknya untuk selalu makan teratur dan bergizi empat sehat lima sempurna, mencuci tangan sebelum makan, berdoa sebelum makan dan sebagainya. Sementara dapat pula terjadi proses belajar yang tidak disadari atau tidak dimaksudkan untuk dipelajari oleh anak seperti : Anak bermain dengan memakai baju ibunya, sepatu tinggi ibunya, dan bahkan memakai lipstik ibunya karena melihat penampilan ibunya setiap pagi ketika berangkat ke kantor. Ada lagi contoh belajar tidak disadari yang negatif dan merugikan, misalnya anak-anak menjadi sering berkelahi dan mengeluarkan kata-kata kasar karena seringkali melihat dan mendengar orangtuanya beradu pendapat dan saling melemparkan kata-kata kasar.

Selain menjadi ruang untuk belajar, keluarga juga menjadi sumber penerimaan, kasih sayang dan dukungan yang utama bagi seorang individu karena sebagai makhluk sosial, manusia selalu membutuhkan manusia lain di sekitarnya untuk memberikan bantuan atau dorongan bila ia mengalami masalah atau kesusahan, ataupun bila menghadapi situasi yang dirasakan penuh tekanan. Dukungan dari keluarga, terutama orangtua, membuat anak merasa diterima dan diakui sebagai seorang manusia. Dukungan ini dapat berbentuk perilaku mendorong, menolong, bekerja sama dan menunjukkan persetujuan, cinta, dan afeksi fisik.

Dukungan dari orang lain di sekelilingnya dibutuhkan individu sejak dari kecil sampai dewasa. Untuk anak yang berada pada tahapan usia sekolah dasar, dukungan yang sangat penting adalah dalam pencapaian kemandirian dan tugas-tugas akademik di lingkungan sekolah. Pada masa ini masalah prestasi menjadi masalah yang dianggap penting bagi orangtua seiring dengan meningkatknya kemampuan anak. Pada masa ini, anak harus berhadapan dengan tugas perkembangan yang penting yaitu prestasi sekolah.

Tugas-tugas di sekolah seringkali menjadi sumber permasalahan bagi anak. Banyak ditemui anak malas pergi ke sekolah karena menghindar dari hukuman belum mengerjakan tugas. Di sekolah juga sering kali ditemui siswa yang cerdas tetapi tidak bersemangat. Dari sini bisa dilihat bahwa motivasi memegang peranan penting dalam usaha pencapaian prestasi. Dalam usaha mencapai prestasi, anak diarahkan oleh motivasinya. Selain dipengaruhi oleh intensitas – tinggi atau rendahnya – motivasi tersebut, anak juga dipengaruhi oleh arah dari motivasi tersebut. Apakah fokus perhatian anak adalah tugas itu sendiri dan bukan imbalan di luar dirinya ataukah fokusnya lebih kepada imbalan di luar dirinya. Arah motivasi berprestasi yang pertama sering juga disebut sebagai berorientasi tugas (task orientation / task-oriented) atau dikenal juga dengan mastery. Cirinya dalah anak bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu karena ia ingin menjadi siswa yang unggul penguasaannya akan suatu materi tertentu dan memiliki standar yang ditetapkannya sendiri. Misalnya saat guru mengharuskan setiap siswa mengerjakan 10 soal matematika setiap harinya, maka anak tersebut demi lebih menguasai matematika merasa bahwa ia harus mengerjakan 20 soal matematika setiap harinya. Siswa dengan arah motivasi yang berorientasi pada tugas ini menyadari bahwa hasil sepenuhnya tergantung dari usahanya sehingga akan menggunakan strategi belajar yang efektif. Ia akan terlibat secara mendalam dalam aktivitas belajar di kelas (memperhatikan guru, senang menjawab pertanyaan, dsb.) dan bila menemui kesulitan akan bertahan serta mencari alternatif pemecahan masalah (bertanya pada guru, mencari informasi di internet, dsb).

Sebaliknya siswa dengan arah motivasi imbalan (ego orientation atau performance orientation) akan lebih tertarik kepada imbalan-imbalan di luar dirinya yang menguntungkan bagi dirinya, misalnya mendapat pujian dan penghargaan dari orang lain, mendapat hadiah, menyenangkan orang lain, dan sebagainya. Siswa dengan arah motivasi ini lebih mementingkan penilaian orang lain sehingga cenderung selalu melihat pada norma dan selalu ingin mengalahkan orang lain. Siswa seperti ini akan mengerjakan soal matematika lebih banyak dari orang lain dikarenakan ia memang tidak mau kalah dari orang lain.

Siswa yang mengerjakan segala sesuatunya karena ia memang ingin menjadi siswa unggul dan mencapai prestasi akan mengacu pada dirinya sendiri. Siswa ini memandang belajar sebagai tujuan akhir dan penguasaan suatu tugas atau pelajaran sebagai hasil akhir. Di lain sisi, siswa yang mengerjakan sesuatu lebih karena ia ingin mendapatkan imbalan, akan mengacu pada orang-orang di sekelilingnya. Siswa seperti ini akan memandang keberhasilan berdasarkan reaksi orang lain terhadap apa yang dilakukannya. Ada kecenderungan untuk mengerjakan tugas-tugas yang paling mudah menghasilkan pujian dari orang tua dan tidak memperdulikan tugas lain. Siswa seperti ini cenderung menghindari tugas-tugas yang tidak mendapatkan penilaian seperti pelajaran Bimbingan Karir di sekolah, atau akan mengesampingkan tugas-tugas pelajaran ketrampilan, kesenian, olahraga yang menurutnya tidak akan mendatangkan pujian orangtua bila mendapat nilai bagus, dibandingkan bila ia mendapat nilai bagus untuk pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan sebagainya. Dalam beberapa kasus, penilaian yang didapat dari pelajaran matematika sering dianggap lebih membanggakan daripada penilaian dari mata pelajaran lain.
Arah motivasi berprestasi yang dianut seorang anak, apakah dirinya sendiri atau orang lain, ditentukan oleh banyak hal di antaranya faktor internal anak seperti persepsi terhadap kemampuan diri, minat terhadap suatu materi pelajaran, jenis kelamin, serta faktor eksternal seperti lingkungan rumah dan sekolah. Di antara hal-hal yang mempengaruhi motivasi berprestasi anak, lingkungan keluarga khususnya orangtua adalah faktor yang dirasa paling banyak memberikan kontribusi. Hal ini disebabkan keluarga merupakan dasar dari perkembangan anak dan di dalamnya terjadi interaksi yang intens antara anggota-anggotanya, terutama interaksi orangtua-anak. Adapun usia kiritis pengembangan motivasi berprestasi anak adalah sebelum anak mencapai usia sepuluh tahun. Bila anak dididik untuk selalu mendapat hadiah bila ia juara, maka ia akan belajar, bahkan sampai dewasa, bahwa sudah selayaknya ia mendapat penghargaan bila orang lain ingin ia mengerjakan sesuatu dengan baik.

Penelitian penulis pada anak usia sekolah dasar mengenai hubungan antara persepsi siswa terhadap dukungan orangtua dengan orientasi tujuan dalam pelajaran matematika (2001) menyimpulkan bahwa ada hubungan positif yang kuat antara dukungan orangtua yang dirasakan oleh anak dengan arah motivasi berprestasi. Pada masa usia sekolah dasar, pelajaran matematika seriang dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Selain disebabkan oleh karakteristik matematika yang melibatkan angka dan simbol-simbol, cara guru menerangkan dan suasana kelas juga berpengaruh terhadap penilaian anak akan tingkat kesulitan pelajaran matematika. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin seorang anak merasakan orangtuanya mendukung dirinya dalam menghadapi pelajaran di sekolah, arah motivasi berprestasi anak lebih ke arah mastery, menguasai tugas dengan baik dan menjadi siswa berprestasi dibandingkan sekedar ingin mendapatkan hadiah dari orangtuanya walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam diri anak juga terdapat orientasi berprestasi yang mengarah kepada mendapatkan pujian atau penghargaan. Namun berdasarkan penelitian, siswa yang memiliki kedua arah berprestasi secara bersamaan tidak memiliki prestasi akademis sebaik siswa yang belajar karena murni memang ingin menjadi ahli di bidang tersebut (mastery). Singkatnya, arah motivasi berprestasi yang mengarah kepada keinginan untuk menjadi siswa berprestasi dan pintar di bidangnya merupakan arah berprestasi yang paling ideal bagi seorang siswa.

Dari berbagai penelitian juga dapat dilihat bahwa dukungan dari orang-orang yang bermakna di sekeliling seorang anak, khususnya orangtua, dapat mengatasi atau setidaknya mengurangi efek negatif dari kejadian yang penuh tekanan, dan dukungan orangtau dapat meningkatkan motivasi serta keterlibatan anak dalam aktivitas di kelas.
Sebagai individu, anak usia sekolah dasar memiliki tugas perkembangan yang berfokus pada pencapaian kemandirian dan usaha pencapaian prestasi di sekolah. Dalam usaha mencapai tugas perkembangan tersebut, anak akan menemui banyak tantangan dan kesulitan. Bagaimana orang-orang di sekitar anak, terutama orangtua, memperlakukan anak sehubungan dengan tugas perkembangannya – apakah bagi anak perlakuan tersebut bersifat positif atau negatif, merupakan dukungan atau penolakan – akan mempengaruhi penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri dan mempengaruhi cara pandang anak terhadap situasi, termasuk di dalamnya situasi tuntutan untuk berprestasi.

Banyak orangtua menganggap memberikan dukungan cukup sekedar dengan memberikan anak fasilitas belajar yang cukup atau memberikan hadiah-hadiah bilamana anak berhasil dalam studinya. Sesungguhnya, persepsi seorang anak akan dukungan orangtua sedikit berbeda dengan apa yang dipersepsikan orangtua sebagai perilaku mendukung. Beberapa perilaku yang dianggap anak sebagai bentuk dukungan orangtua adalah : kehadiran yang dapat diandalkan, arahan, kelekatan (attachment), pemberian rasa berharga, dan pengasuhan. Berdasarkan lima komponen dari Weiss tersebut, berikut beberapa saran praktis yang dapat diterapkan orangtua.

Dampingilah anak saat mengerjakan tugas sekolah. Banyak orangtua menganggap tidak perlu mendampingi anak saat mengerjakan PR dikarenakan orangtua tidak mendengar anaknya minta untuk didampingi. Apakah anak Anda meminta atau tidak meminta untuk dibantu saat belajar, kehadiran Anda di sisinya merupakan salah satu bentuk perhatian Anda kepadanya. Sangat disayangkan, ada orangtua yang merasa perlu menghindar saat anaknya mengerjakan tugas dikarenakan kuatir bila nanti anaknya bertanya, ia tidak bisa menjawab. Sebagai orangtua, Anda dituntut untuk bersikap bijaksana pada saat menjawab pertanyaan anak yang mungkin Anda tidak tahu atau sudah lupa cara mengerjakannya. Tantanglah anak untuk menyelesaikannya sendiri misalnya dengan mengatakan “Mama rasa kamu pasti sebenernya bisa mengerjakannya hanya saja kamu mungkin lupa ya Nak. Ayo coba lagi.” Hal ini secara tidak langsung juga dapat melatih kemandirian anak.

Dengarkan ceritanya maupun keluh-kesahnya. Luangkan waktu Anda sejenak untuk mendengarkan pengalamannya hari itu di sekolah. Waktu yang lama tidak berarti lebih baik daripada waktu yang hanya sebentar asalkan Anda benar-benar terfokus kepadanya dan hindari melakukan aktivitas lain seperti menonton TV atau mengerjakan pekerjaan Anda sendiri. Saat Anda benar-benar terfokus pada dirinya, anak akan merasa berharga dan mendapat dukungan dari Anda. Anda juga diharapkan dapat memberikan umpan balik atas apa yang telah dilakukan anak Anda. Kalau apa yang dilakukannya hari itu baik, berilah penghargaan.

Tolonglah dia saat mengalami kesulitan dan bangkitkan semangatnya saat dia mengalami kegagalan. Misalkan saat ia mendapat nilai kurang bagus di sekolah dan mendapat ejekan dari teman-temannya. Kegagalan dalam menguasai tugas-tugas perkembangan dalam usia sekolah dapat menimbulkan tiga akibat yang serius, yaitu membuat anak merasa rendah diri sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman dan bahagia. Kedua, kegagalan dapat menimbulkan penolakan lingkungan kepada anak. Anak akan merasa tersisih dan tidak punya teman. Ketiga, kegagalan dapat menyulitkannya menguasai tugas-tugas perkembangan tahapan usia selanjutnya. Dengan mengetahui bahwa anda selalu ada saat dibutuhkan, anak akan merasa tenang karena ia menyadari ada orang yang dapat diandalkan untuk menolongnya apabila ia menghadapi masalah atau kesulitan. Menyediakan waktu Anda saat anak membutuhkan juga akan membuat kecenderungan anak untuk lari ke penyelesaian masalah yang kurang baik, misal pergaulan yang tidak sehat atau ketergantungan obat-obatan, menjadi berkurang bahkan tidak ada.

Bersikaplah konsisten dengan aturan yang berlaku di rumah dan jadilah contoh yang baik bagi anak Anda. Disiplin baik bagi anak usia sekolah dasar dimana pada usia sekolah dasar, salah satu tugas perkembangan yaitu mengembangkan nurani, moralitas, dan nilai-nilai (value). Pada saat Anda sudah menetapkan anak Anda harus belajar jam 4-5 sore setiap harinya, jangan mengajaknya berjalan-jalan pada jam tersebut. Anak anda akan mengalami kebingungan dan menganggap ada ‘celah’ bila ia ingin melakukan hal lain yang ia lebih sukai di jam 4-5 sore dibanding belajar.

Tunjukkan kasih sayang Anda kepadanya dalam bentuk perilaku. Tampilkan melalui nada suara yang bersahabat, ekspresi wajah yang ramah serta sikap tubuh yang hangat. Berbicaralah dengan lemah lembut dan jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang dengan cara memeluknya, mengelus rambutnya, dan sebagainya. Kedekatan dan keintiman dengan anak dapat memberikan rasa aman kepada anak. Ada saatnya dimana anak Anda melanggar aturan dan Anda marah padanya, usahakan jaga nada suara Anda dan bahasa tubuh Anda tetap netral tapi sampaikan pesan inti kepadanya bahwa ia sudah melanggar aturan dan membuat Anda sedih.

Pada akhirnya sebaiknya Anda menanamkan kepada anak bahwa prestasi di segala bidang sama berartinya untuk orangtua. Berikan pengakuan atau penghargaan terhadap kemampuan dan kualitas anak dalam bidang apapun sepanjang hal tersebut bersifat positif. Dukungan ini akan membuat anak merasa dirinya diterima dan dihargai. Sering ditemui kasus orangtua menanamkan kepada anaknya bahwa suatu pelajaran tertentu lebih penting daripada pelajaran lain. Sikap orangtua terhadap suatu pelajaran, misalnya sering mengeluhkan bahwa pelajaran matematika anaknya susah atau prestasi di bidang akademik lebih bagus daripada prestasi bidang akademik, secara tidak langsung akan tertanam kepada benak si anak.

Dengan menunjukkan dukungan terbaik Anda sebagai orangtua, anak akan terdorong untuk mengarahkan motivasi berprestasinya ke arah task-orientation atau mastery sehingga sikap belajarnya pun menjadi positif. Secara mandiri anak dapat mengembangkan cara belajar yang efektif sehingga nantinya bertumbuh menjadi pribadi yang adaptif dalam menyikapi tantangan persaingan sumber daya manusia yang semakin ketat di era mendatang.

Salam Kenal..

Selamat pagi semuanya…

Hari ini setelah mencoba menulis blog beberapa kali, akhirnya tahu dan yakin mau punya blog yang seperti apa.  Blog ini merupakan blog berbagi pengalaman, khususnya seputar dunia kerja..  Makanya diberi nama cangkir kopi, selayaknya tamu, setiap pengunjung akan dijamu secangkir dua cangkir kopi.. Apabila gak suka minum kopi, saya juga menyediakan camilan-camilan yang rasanya ga sreg kalau tidak dicicipi. Ada pisang goreng, wedang ronde, dan lain-lain.

Layaknya kopi yang membutuhkan penanganan barista yang handal, demikian halnya dengan tulisan hingga dapat dinikmati hingga tetes terakhir. That’s why i fall in love with both of them.. (The coffee of course, not the barista :P)
So.. Perkenankanlah saya membuatkan kopi disini dan menuangkannya untuk kalian semua disini.

Sekian dulu perkenalan dari saya, kiranya secangkir kopi ini bermanfaat buat semua.

Enjoy,

Essyyani

HR Developmentalist

Online dulu..

Hai semuanya. Sudah lama rasanya tidak menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer dan on line. Terakhir rasa-rasanya setahun yang lalu saat saya sedang keranjingan download mp3. Mata bisa tidak terpejam selama berjam-jam hanya karena mencari lagu-lagu yang nampaknya sudah jarang ditemukan di mp3 yang dijual, alias tembang-tembang lawas kali ya.. Kalau sekarang ini, jangankan mencari materi-materi penambah ilmu, buat yang bersifat menyenangkan pun rasanya mata sudah malas diajak menari-nari di layar komputer setelah seharian sibuk menatap puluhan orang di kantor dan juga faktor U kali ya (faktor usia hehe). Yah inilah yang dinamakan pembenaran terhadap kemalasan. Apa jadinya bangsa Indonesia kalau semua seperti ini ya alasannya. Apalagi kalau ini terjadi kepada sekelompok orang yang tugasnya mendidik. Bayangkan stagnasi program pendidikan yang terjadi akibat malas mencari informasi baru.

Kalau hal ini pribadi terjadi pada saya, setelah saya dimanjakan oleh produk serba bisa bernama blackberry. Segala sesuatunya bisa saya lakukan dari gadget tersebut namun menurut saya pribadi, besar layar yang terbatas membuat mata sulit menatap dan menyimak informasi berlama-lama. Lagi-lagi alasan ya. Faktor U. Hehe.

Padahal dulu, waktu saya masih seorang mahasiswi yang belum punya duit buat beli handphone canggih-canggih dan masih dituntut untuk selalu cari jawaban atas permasalahan di perkuliahan, saya ini termasuk orang yang rajin banget nongkrongin warnet di kampus.  Sampai saya selalu mendapat gratis 1 jam setelah online 5 jam. Gak cuma itu, saya juga rajin nongkrong di meja belajar saya yang dilengkapi dengan internet. Saya suka sekali mencari-cari informasi yang berhubungan dengan kuliah psikologi saya dan juga melebarkan pertemanan di kalangan onliners.. melalui media mIrc.. Nongkrong berlama-lama di sebuah channel dan dikenal seluruh pengunjung channel berasa keren banget deh.. Apalagi saat mendapat label a keong (@ ) di depan nama kita. Woww.. itu berarti kita jadi operator di channel tersebut, bisa nge-kick, nge-banned, atau melakukan apapun yang kita suka terhadap ‘rakyat biasa’ yang ada di channel tersebut.

Ngomong-ngomong, mau tahu berapa lama dalam sehari saya bisa chatting? Di kampus itu sambil menunggu kuliah berikutnya bisa sekitar 2 jam, setelah selesai kuliah bisa 1 jam, dan di rumah bisa 10 jam (dari jam 8 malam sampai 6 pagi) sehingga totalnya adalah kurang lebih 13 jam sehari. Wow, itu lebih dari 50% jumlah jam yang saya miliki dalam sehari kan?

Berikut beberapa pengalaman berkesan saya soal kebanyakan chatting :

Kejadian 1, Di kamar
(terdengar suara ketukan di pintu)
Suara dari luar (Papa) : “Sy, belum tidur”
Suara dari kamar : (memencet keyboard dengan bersemangat, padahal lagi asik curhat sama temen di room, sampai-sampai tidak mendengar ketukan di pintu)
Papa : (dalam hati) mmmhhh.. anakku rajin sekali, masih mengerjakan skripsinya hingga jam 4 pagi dari tadi jam 8 malam… semoga dia cepat lulus..

😀

Kejadian 2, di sebuah restoran FastFood di Depok

Rame2 : Wawawawawawa (gosip.. ga jelas ngobrol apa saking ramenya…)

Miss E : “Ssssttt… Kok kayak ada bunyi connecting ya…”

Miss N (one of my bestfriend) : “Iya, Sy”

Semua kecuali dua orang itu : (sambil melihat dengan tatapan takjub dan tuduhan nista) “Sakaw ya lo berdua…”

Miss E & Miss N : (diam seribu bahasa, menunduk malu)

Kala itu saya dan miss N lagi keabisan duit jajan jadi gak bisa online lama-lama di kampus. Di rumah saya pun lagi tergusur gak bisa online karena dipakai oleh adik saya yang juga lagi ngerjain skripsi.

Kejadian 3, di sebuah resto fastfood ayam di sebuah mall di Jakarta Selatan

Miss E : “Oh, jadi ini yang namanya Echon..”

Mr. E : (diam)

Miss E : “Jadi kamu hobinya makan? sama dong..”

Mr. E : (diam)

Miss E : “Terus gimana kuliah kamu?”

Mr. E : (diam)

Miss E : (perasaan di chatting-an rame bener nih cowok, kenapa sekarang jadi batu gini ya. Langsung sms teman, yang adalah teman Mr. E juga, biasa… curhat)

To : 0818xxxxxx

Yul.. kumaha.. Kok dia diem aja. Perasaan rame ya kalau di chatting.

To : 081299xxxxx

Message delivered

From : 0818xxxxxx

Masa sich? Ya udah gue kesitu deh, gue bawain keyboard biar ngobrolnya lancar..

????