Kesuksesan Seorang Pengemudi Taksi

Ini merupakan kisah nyata, pengalamanku di malam hari tanggal 27 Mei 2010, pukul 21.00.

Hari ini hari yang melelahkan. Pekerjaan di kantor cukup ‘menyiksa’ – dalam artian, besok libur sehingga apa yang menjadi target di minggu ini harus diselesaikan hari ini, hari Kamis yang merupakan hari terakhir di minggu ini. Aku akhirnya pulang setelah memutuskan untuk membawa beberapa pekerjaan pulang. Suntuk dan pusing kepala, mengerjakan semuanya seorang diri. Pekerjaanku saat ini memang seorang generalist, yang juga harus mensupervisi tim yang semuanya masih lebih junior dari padaku. Beberapa kali aku rasakan, tingkat emosi cukup tinggi, walau tidak sampai memaki. Tekanan pekerjaan nampaknya memang berpengaruh pada keletihan fisik. Aku merasakan keletihan yang luar biasa.

Tepat jam sembilan malam, aku melangkahkan kaki keluar kantor. Cukup lama rasanya menunggu taksi di depan jalan Wijaya I. Apalagi kondisi long weekend, membuat semua taksi  yang lewat sudah berpenumpang dan tidak menyisakan satu pun taksi kosong untukku. Aku capek, keluhku dalam hati. Memandang ke arah mobil-mobil yang lewat, dimana penumpangnya duduk santai sementara sang pengemudi tampak gusar menahan pegalnya kaki harus mengantri di jalan yang harusnya biasanya sudah lengang di jam 9 malam tersebut.

Akhirnya, aku menemukan sebuah taksi kosong, menyetopnya, membuka pintunya, dan di sana duduk di kursi pengemudi seorang bapak berperawakan kecil. Ia menyapaku “Selamat malam, Bu,” katanya bersemangat. Wah, kataku dalam hati. Kenapa harus bertemu dengan sopir taksi yang masih semangat ya jam segini. Padahal aku sudah capek, ingin istirahat rasanya. Dia melanjutkan “Wah saya senang sekali, Bu, barusan saja saya di Kemang tidak bergerak sama sekali. Dua jam, Bu,” katanya dengan logat daerah Tegal yang dengan mudah aku kenali.

Sepanjang jalan, pengemudi taksi berbaju biru itu terus mengajak aku berbicara. Pada saat ada motor mau menyerempet mobilnya, ia tetap berbicara dengan sabar. Katanya, “Saya ini bawa motor juga lho, Bu, tapi saya gak pernah ugal-ugalan begitu. Saya ingat anak istri saya. Apalagi kalau saya bonceng mereka, Bu, kecepatan 40 aja istri saya udah nyubit saya. Pelan-pelan, Pa..”

Disitu saya melihat bahwa Bapak ini adalah seorang yang sabar dan juga seorang yang sayang pada keluarga. Apakah pengemudi-pengemudi kendaraan yang lain juga pernah berpikir yang sama? Kenapa aku lama-lama jadi tertarik untuk menyimak ceritanya ya. Orangnya ramah dan tutur katanya pun sopan.

Dia melanjutkan “Saya setiap libur selalu ke daerah, Bu, ngedrop barang. Pakai motor juga, baru saya berani sedikit kencang biar waktunya cukup, Bu” paparnya dengan semangat.

“Lho, Bapak memang ditugaskan sama perusahaan Bapak ke daerah?” tanyaku heran.

“Enggak, Bu. Saya punya usaha juga selain bawa taksi. Saya ini jualan celana, Bu.”

“Oh, Bapak punya toko celana ya?” tanyaku.

“Enggak, Bu. Saya tiap libur itu dari kantor, saya nge-drop in celana. Bisa sepuluh lusin. Bisa dua belas lusin. Terakhir kemarin saya nge-drop in ke Tasik, Bu. Lumayan, Bu.”

“Wah hebat benar Bapak. Gimana ceritanya Pak, bisa punya bisnis ini? Terus kenapa Bapak sekarang masih bawa taksi?” tanyaku heran. Heran karena jumlah dagangan Bapak ini tidak sekedar satu dua, tapi berlusin-lusin tiap minggunya.

“Itulah, Bu. Saya gak mau berhenti jadi sopir karena saya dulu dapat rezeki ini di taksi. Saya pernah nganter orang ke bandara, dan dia menawarkan saya untuk menjalankan bisnis ini di Jakarta. Dia orang Bandung, Bu. Dia bilang dia percaya sama saya. Pelanggan-pelanggan saya yang pertama ya teman-teman di pool (taksi), Bu. Sehari saya bisa laku minimal sepuluh potong, padahal saya cuma ambil untung 5000 rupiah.”  Kemudian ia terhenti sebentar. Aku menangkap nada haru di suaranya.

“Ya, Allah, sungguh rezeki ini luar biasa buat saya, Bu. Saya dulu orang susah, dari SD saya sudah gelandangan di Jakarta sampai dipungut anak oleh seorang ibu di daerah Blok M. Saya terima kasih sekali sama beliau almarhum, Bu. Saya dulu diusir orangtua saya dari kampung, saya sampai ke Jakarta dengan suatu tekad, suatu hari saya harus jadi sukses. Awalnya saya ngamen sampai kerja di pabrik. Baru jadi supir di sini, sudah lima belas tahun bawa taksi”,  katanya. “Sekarang sejak jual celana, hidup saya jauh lebih baik, Bu. Saya bisa punya rumah. Rumah saya tiap hari ramai didatangi tukang kredit yang mau beli dari saya untuk dijual lagi.

“Tapi saya gak dendam, Bu, sama keluarga saya. Mbakyu saya datang ke rumah saya belum makan, saya suruh makan sepuasnya. Waktu dia mau dagangin celana saya, saya juga kasih. Walaupun akhirnya uangnya tidak pernah sampai ke saya. Untungnya istri saya juga baik, Bu, ngerti banget keluarga suaminya gimana,”

“Kalau sampai sekarang saya masih bawa taksi, ini karena dari taksi inilah saya dapat rezeki saya, Bu. Saya ditemukan oleh Pak Herry – sebut saja begitu, orang yang memberikan dia bisnis itu. Dan saya juga menemukan banyak pelanggan di taksi ini,” katanya lagi. Matanya tampak berbinar-binar. “Saya mau punya toko sendiri, Bu. Mungkin setelah punya toko baru saya benar-benar berhenti bawa taksi.”

Wow, luar biasa. Setelah bicara panjang lebar dengan Bapak itu kurang lebih dua jam, saya mulai menyimpulkan hal-hal yang berkontribusi terhadap kesuksesannya.

1. Sabar dan mengikuti aturan – Mendengarkan masukan istri dan menjaga keselamatan keluarga dalam berkendara

2. Kerja keras dan menampilkan komitmen – Pekerjaan apa saja yang halal dijalani. Dan ia sudah bekerja 15 tahun di perusahaan yang sama tanpa cacat cela

3. Mendapatkan kepercayaan orang lain – Dengan cara menampilkan tutur kata dan perilaku yang positif dan dapat dipercaya

4. Memaafkan yang sudah pernah menyakiti hatinya bahkan menolong mereka

5. Memberikan apa yang menjadi porsi orang lain – Yang mengambil celana untuk dijual lagi dan belum bayar karena uangnya dipakai untuk beli keperluan sehari-hari, dia maklumi

6. Punya target ke depan dan berusaha mencapainya – Dia mau punya toko dan sampai sekarang berusaha mengumpulkan uang yang ada untuk modal menyewa toko

7. Kemampuan mengadakan pendekatan dan tidak malu untuk menawarkan, juga membangun relasi – Pada saat saya sampai di rumah, ia masih sempat memperlihatkan kepada saya beberapa sampel celana yang dijualnya, dan juga memberikan nomer hp-nya loh🙂 Serta berpesan bahwa dia menerima order per potong, tidak mesti beli selusin.

Salut untuk seorang Pak Warto, pengemudi taksi yang sudah menolong saya malam  itu, bukan saja mengantar saya pulang, tapi juga memberi saya makna baru dalam menyikapi setiap tantangan hidup. Mengajarkan saya kiat-kiat sukses yang selama ini cuma saya baca di toko buku dan tidak lebih dari buaian kata-kata indah belaka. Semoga Pak Warto sukses dalam bisnisnya dan bisa memiliki toko seperti yang dicita-citakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s